<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>SundaNet</title>
	<atom:link href="http://www.sundanet.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.sundanet.com</link>
	<description>Portal Komunitas Sunda</description>
	<pubDate>Wed, 22 Oct 2008 02:43:12 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>INDRAWATI LUKMAN</title>
		<link>http://www.sundanet.com/?p=2</link>
		<comments>http://www.sundanet.com/?p=2#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 1999 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inohong]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Indrawati Carvacrolia dilahirkan di Bandung pada tanggal 1 April 1944 kini lebih dikenal dengan nama Indrawati Lukman. Melalui gerak tarinya Indrawati Lukman telah melawat ke berbagai negara di belahan dunia. 
<br />
<br />Dedikasi Indrawati Lukman dalam dunia Seni Tari dan kemampuannya mengelola Studio Tari telah terbukti dengan berbagai penghargaan yang diterimanya. Berbagai kegiatan penting yang diselenggarakan di Kota Bandung, apabila melibatkan unit kesenian khususnya Seni Tari akan meminta penanganan Indrawati Lukman bersama Studio Tari Indra. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Indrawati Carvacrolia dilahirkan di Bandung pada tanggal 1 April 1944 kini lebih dikenal dengan nama Indrawati Lukman. Melalui gerak tarinya Indrawati Lukman telah melawat ke berbagai negara di belahan dunia. </p>
<p>Dedikasi Indrawati Lukman dalam dunia Seni Tari dan kemampuannya mengelola Studio Tari telah terbukti dengan berbagai penghargaan yang diterimanya. Berbagai kegiatan penting yang diselenggarakan di Kota Bandung, apabila melibatkan unit kesenian khususnya Seni Tari akan meminta penanganan Indrawati Lukman bersama Studio Tari Indra. </p>
<p>Aktivitas Indrawati Lukman dan Studio Tari Indra dalam memperkenalkan serta mengembangkan Seni Tari Sunda tidak terbatas untuk membantu Pemerintahan Daerah Kota Bandung dan kota-kota lainnya di Indonesia saja. Khususnya ketika harus memberikan suguhan Kesenian Tradisional kepada para tamu-tamu asing. </p>
<p>Melalui kreativitas Seni Tarinya Indra telah mengadakan lawatan ke berbagai negara di belahan penjuru dunia sebagai Duta Seni dan Budaya Indonesia. Dengan Seni Tari Indra berinisiatif sekaligus berharap dapat menjaring wisatawan mancanegara sehingga lebih mengenal lagi Indonesia. </p>
<p>Sebagai Duta Seni dan Budaya Indonesia telah membawa Indra keliling dunia. Sejak tahun 1957 sampai tahun 1997 Indra telah berkunjung ke berbagai negara di belahan penjuru dunia diantaranya Rusia, Cekoslovakia, Hungaria, Mesir, RRC, Korea Utara, Thailand, Philipina, Singapura, Malaysia, Jepang, Uzbekistan, Toronto, Braunschweig &#038; Hamburg Jerman serta beberapa negara lainnya. Selain itu juga pernah mengisi acara pada kegiatan New York World&#8217;s Fair di Amerika Serikat dan yang terakhir adalah muhibahnya ke Vancouver-Canada. </p>
<p>Sejak masa kanak-kanak Indra sudah mengenal dunia luar dengan menjadi duta wisata dalam bidang Seni dan Budaya. Menginjak masa remaja Indra sudah berada di negeri orang. Melalui Seni Tari Indra mengepak sayap menembus batas dunia untuk memperkenalkan Seni dan Budaya Indonesia sekaligus menjalin persahabatan antar negara. </p>
<p>Darah seni yang dimiliki Indrawati mengalir dari ibundanya Emmie Soeleman kelahiran Semarang seorang penari Jawa. Pendidikan formal tari diperolehnya dari Stephen College, Columbia-Missouri USA pada tahun 1964-1966, atas beasiswa Burral International Scholarship. Mata kuliah yang dipelajarinya meliputi: musik/beat, modern dance dalam teknik Martha Graham, koreografi, dan ethnic dance (India, Spanyol dan Hawai). Pada tahun 1968 dan 1985 Indrawati belajar tari Thailand di Department of Fine Arts di Bangkok. </p>
<p>Berbekal pendidikan formal seni tari dan pengalamannya sebagai penari, sejak tahun 1955 Indra bergabung dengan Badan Kesenian Indonesia (BKI) yang diasuh oleh R. Tjetje Somantri. Melalui misi Seni dan Budaya telah mengantar Indra untuk keliling dunia. Pengalaman ini juga telah memberinya pengetahuan sehingga dapat menciptakan tarian kreasi baru sekaligus ikut menumbuhkembangkan Seni Tari di Studio Tari Indra yang berdiri sejak tanggal 20 Agustus 1968. </p>
<p>Melihat sosok Indrawati dengan warna kulitnya yang kuning dan hidungnya yang mancung serta nama yang agak berbau asing yaitu Indrawati Carvacrolia, banyak orang mengira bahwa Indrawati adalah &#8220;indo&#8221;. Ternyata dugaan orang itu keliru. Indrawati puteri dari pasangan Soesatio Poerwohadikoesoemo, MSc kelahiran Brebes dan Emmie Soeleman kelahiran Semarang. </p>
<p>Nama Carvacrolia dibelakang namanya diberikan oleh ayahnya yang saat itu sedang meneliti sejenis zat kimia yang terdapat pada carvacrol. Carvacrol merupakan nama tumbuhan sejenis thyme yang mengandung antiseptik dan berasal dari cyprus atau pinus. Sedangkan Lukman yang ada dibelakang namanya adalah nama suami tercinta yakni Ir. Winarya Lukman Machdar,Dipl.H.E salah seorang pejabat di Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pengairan Jawa Barat. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sundanet.com/?feed=rss2&amp;p=2</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)</title>
		<link>http://www.sundanet.com/?p=3</link>
		<comments>http://www.sundanet.com/?p=3#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 1999 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inohong]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Sosok Kyai yang satu ini memang lain, dia berani tampil beda antara menjalankan Syiar Islam dan kesehariannya. Tidak percaya? Lihat photo Aa Gym (begitu panggilan akrab) Kyai-nya kawula muda yang tampil di layar ini. 
<br />
<br />Pria kelahiran 29 Januari 1962 ini lebih enak dipanggil Aa (kakak), daripada sebutan Kyai.
<br />"Saya ingin akrab dengan semua lapisan masyarakat, kalau dipanggil Kyai sepertinya ada jarak," ujar anak yang besar di lingkungan tentara dan pernah memimpin Resimen Mahasiswa di Universitas Ahmad Yani (Unjani) Cimahi ini. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sosok Kyai yang satu ini memang lain, dia berani tampil beda antara menjalankan Syiar Islam dan kesehariannya. Tidak percaya? Lihat photo Aa Gym (begitu panggilan akrab) Kyai-nya kawula muda yang tampil di layar ini. </p>
<p>Selama ini kita melihat penampilan Aa Gym di televisi atau di berbagai podium pengajian, apabila sedang menjalankan Syiar Islam tidak pernah lepas dari serban. Tapi khusus untuk SundaNet.Com Aa minta penampilannya yang ini diupload. </p>
<p>Dewasa ini terdapat imej bahwa mengumpulkan remaja di forum dakwah susah-susah gampang. Tetapi apabila yang memberikan ceramahnya Kyai Idola Remaja yang bernama Abdullah Gymnastiar lapangan olah raga Gasibu yang berlokasi di depan Pusat Pemerintahan Propinsi Jawa Barat, penuh oleh puluhan ribu remaja dan kawula muda yang sedang mencari Syiar Islam. </p>
<p>Kini Aa Gym, tidak saja menjadi idola para remaja dan kawula muda tetapi sosok Aa Gym telah menjadi figur baru dakwah Islam di seluruh lapisan masyarakat. Jadwal kegiatannya cukup padat, selain memberikan ceramah di Pondok Pesantren yang dipimpinnya yakni Daarut Tauhiid, Aa Gym juga kerap mengisi panggilan ceramah di luar Kota Bandung. </p>
<p>Kalangan pengusaha dan kaum profesional saat ini banyak yang mengikuti kegiatan rutin yang dikenal dengan sebutan &#8220;ngaji&#8221; padanya. Modal Aa Gym sehingga dipercaya memimpin para santrinya yang kini tersebar dari berbagai kalangan adalah &#8220;ketulusan&#8221;, ditambah dengan &#8220;positioning&#8221; khusus dengan system pembinaan &#8220;Manajemen Qalbu&#8221;. </p>
<p>Yayasan Daarut Tauhiid yang dipimpinnya, saat ini telah berhasil mengembangkan kegiatannya, tidak saja di bidang pembinaan mental dengan system manajemen qolbu-nya tadi. Tetapi secara keseluruhan Aa Gym telah berhasil mengembangkan asset pondok pesantrennya sampai memiliki asset sekitar Rp 8 Milyar.<br />
<br />Sungguh luar biasa untuk perkembangan sebuah pondok pesantren yang tergolong baru. Apalagi Aa Gym mulai merintisnya dari NOL. &#8220;Tetapi alhamdulillah saat ini Pondok Pesantren Daarut Tauhiid telah memiliki 21 divisi usaha,&#8221; ujar Aa Gym ketika ditemui SundaNet.Com. </p>
<p><b>Kilas Balik Daarut Tauhiid</b></p>
<p>Sejarah Daarut Tauhiid (DT) berawal pada tahun 1987, ketika seorang pemuda bernama Abdullah Gymnastiar yang kini lebih dikenal dengan nama Aa Gym, merintis usaha melalui wadah KMIW (Keluarga Mahasiswa Islam Wiraswasta). Sebagian hasil usaha KMIW digunakan untuk menopang kegiatan pengajian rutin yang dipimpinnya. </p>
<p>Semakin hari usaha yang dirintis Aa Gym semakin berkembang, sejalan dengan bertambahnya jamaah yang datang mengikuti pengajian rutin yang diasuhnya. Untuk mewadahinya, maka pada tanggal 4 September 1990 didirikanlah secara resmi Yayasan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid. </p>
<p>Memegang prinsip dengan tanpa meminta sumbangan, dapat menjadi besar. Demikian gambaran kilas balik Pondok Pesantren Daarut Tauhiid.</p>
<p>Manfaat Pondok Pesantren Daarut Tauhiid semakin nampak pada saat krisis seperti sekarang ini, diantaranya dengan dibangunnya Cottage dan Masjid.<br />
<br />&#8220;Yang membangun masjid ini kan Allah. Saya hanya memberi informasi, agar setiap muslim bisa memanfaatkan ladang amal,&#8221; demikian kata K.H. Abdullah Gymnastiar. </p>
<p>Pria kelahiran 29 Januari 1962 ini lebih enak dipanggil Aa (kakak), daripada sebutan Kyai.<br />
<br />&#8220;Saya ingin akrab dengan semua lapisan masyarakat, kalau dipanggil Kyai sepertinya ada jarak,&#8221; ujar anak yang besar di lingkungan tentara dan pernah memimpin Resimen Mahasiswa di Universitas Ahmad Yani (Unjani) Cimahi ini. </p>
<p>Berawal dari sebuah kamar kontrakan, kini Daarut Tauhiid memiliki asset yang cukup besar untuk ukuran sebuah Pondok Pesantren. Semuanya berhasil tanpa meminta bantuan.<br />
<br />&#8220;Allah-lah yang memberi semua ini. Padahal dalam perjalannya, saat mulai merintis dakwah merupakan saat yang paling sulit,&#8221; tegasnya. </p>
<p>Pada tahun 1993, Daarut Tauhiid menangani usaha pembebasan tanah untuk selanjutnya dibangun sebuah mesjid permanen berlantai tiga, yang diberi julukan Mesjid Seribu Tangan. Karena mesjid ini dibangun secara gotong royong oleh ribuan masyarakat sekitar, dan para jamaah Daarut Tauhiid.<br />
<br />Untuk membantu kelancaran kegiatan dakwahnya, pada tahun 1994, didirikan Koperasi Pondok Pesantren Daarut Tauhiid (KOPONTREN DT).</p>
<p>Di penghujung tahun 1997, sarana dakwah dan perekonomian menjadi semakin lengkap dengan dibangunnya gedung KOPONTREN DT berlantai empat yang letaknya di seberang mesjid.<br />
<br />Gedung yang cukup representatif ini dipergunakan untuk kantor beberapa unit usaha, seperti: BMT (Baitul Mal wat-Tamwil), Penerbitan DT Press, Percetakan DT Print, Super Mini Market, Warung Telekomunikasi, Warung Internet, Divisi Reklame, Handycraft, Pusat Informasi, dll. </p>
<p>Aktivitas pendidikan juga berkembang pesat, dengan diembannya amanah oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) DT pada akhir tahun 1998.<br />
<br />Materi latihan di DT diantaranya: Achievment Motivation Training (AMT) bernuansa religius, Out Bound Training, Team Building serta tentu saja Manajemen Qolbu. </p>
<p>Diakhir tahun 1998, diresmikan sebuah Hotel Islami (Cottage) yang diberi nama Daarul Jannah Cottage.<br />
<br />Cottage Islami ini diproyeksikan untuk Program Wisata Rohani bagi para eksekutif dari dalam maupun luar negeri, keluarga serta para pelajar yang akan ber-weekend, meneduhkan hati sambil menikmati sejuknya suasana pesantren dan menambah wawasan keislaman. </p>
<p><b>Pondok Pesantren Berwawasan Lingkungan</b></p>
<p>Satu hal lagi yang menarik dari Pondok Pesantren Daarut Tauhiid ini adalah perhatiannya terhadap lingkungan hidup dan disiplin para santrinya.<br />
<br />Mulai dari pintu masuk Jl. Geger Kalong Girang ke lokasi Pondok Pesantren Darut Tauhid +/- 500 meter, nampak bersih dan tidak ada sampah yang berserakan. Hal ini dikarenakan setiap pagi ada petugas khusus yang membersihkan jalan di lingkungan pesantren. </p>
<p>Dalam hal ini jangan heran, apabila pada suatu waktu kita bertemu Aa Gym sendiri yang sedang membersihkan sampah di lingkungan tersebut.</p>
<p>Pada hari Sabtu, yang turun adalah pasukan santri ikhwan yang berseragam kaus biru dan bersepatu lars, membersihkan sampah di kawasan Jl. Geger Kalong Girang.<br />
<br />Sehingga tidak akan kita temukan secarik kertas yang berserakan di pinggir jalan. Karenanya Pondok Pesantren Daarut Tauhiid mendapat penghargaan sebagai Lingkungan Pesantren terbaik se-Indonesia. </p>
<p>(Petikan wawancara SundaNet.Com dengan Aa Gym ditambah dari berbagai sumber)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sundanet.com/?feed=rss2&amp;p=3</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>FORUM KI SUNDA SEBAGAI SOLUSI BUDAYA</title>
		<link>http://www.sundanet.com/?p=4</link>
		<comments>http://www.sundanet.com/?p=4#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 1999 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Komunitas Sunda]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Forum Ki Sunda lahir dari kesadaran untuk menyelamatkan asset budaya santun yang mulai hilang di kalangan masyarakat Sunda. Selain itu juga untuk memperkuat kembali tali persaudaraan berdasarkan nilai-nilai budaya menuju Bangsa Indonesia yang kuat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Forum Ki Sunda lahir dari kesadaran untuk menyelamatkan asset budaya santun yang mulai hilang di kalangan masyarakat Sunda. Selain itu juga untuk memperkuat kembali tali persaudaraan berdasarkan nilai-nilai budaya menuju Bangsa Indonesia yang kuat. </p>
<p>Deklarasi Forum Ki Sunda memproklamirkan diri sebagai Wahana Gerakan Budaya. Forum Ki Sunda ini dideklarasikan pada hari Jumat malam 26 Januari 2001 di Balai Pertemuan Bumi Sangkuriang Bandung. </p>
<p>Seperti yang terjadi di daerah lain, genderang kultural yang ditabuh forum komunitas masyarakat setempat masih banyak yang membawa nafas gugatan. Dalam hal ini khususnya menyangkut gugatan terhadap Orde Baru yang telah melunturkan identitas budaya lewat uniformnya. Pola yang menyalahi sunatullah pluralitas dan keberagaman, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur&#8217;an (Al-Hujarat:13). </p>
<p>Masyarakat dari berbagai Suku Bangsa di Indonesia termasuk didalamnya Etnis Sunda saat ini tengah merasakan tercabut akar budayanya. Masyarakat Sunda dengan Jatidiri Sunda Sawawa pelan-pelan diserbu budaya baru yang cenderung egosentris, materialistis dan ambisius. Dengan demikian telah ikut menodai sifat bersahabat, ramah dan terbuka dalam pergaulan Masyarakat Sunda yang terkenal someah hade ka semah atau dalam arti ramah dan baik terhadap tamu. </p>
<p>Melalui Forum Ki Sunda ini, menurut salah seorang pendirinya Prof. Dr. KH. Said Agil Siradj adalah untuk memperkokoh kembali tali persaudaraan berdasarkan nilai-nilai budaya yang dimiliki masyarakat Sunda menuju Bangsa Indonesia yang kuat dan mandiri. </p>
<p>Lebih lanjut Agil katakan, prahara dan ancaman disintegrasi bangsa yang berakar pada disintegrasi budaya maupun moral perlu penyelesaian yang tepat. Kita bisa menarik pelajaran dari apa yang telah dialami Pakistan, Turki dan Sudan. Menurutnya, penyelesaian berdasarkan pendekatan budaya bisa menjadi cermin untuk mengatasi ekses negatif reformasi. Sedangkan cara politik yang sering melahirkan perpecahan dan pertikaian, dianggap telah gagal mengambil peran itu. </p>
<p>Bangsa Indonesia tidak akan kuat oleh reformasi politik. Dengan demikian diperlukan adanya reformasi budaya, moral dan ahlak. Dalam hal ini masyarakat dihimbau agar tidak terlalu berharap banyak terhadap keberadaan partai-partai politik. Nenek moyang kita telah mewariskan nilai-nilai budaya yang unik. Karenanya nilai-nilai itu perlu direvitalisasi dan diangkat sebagai solusi. </p>
<p>Sementara itu Dewan Pangaping Forum Ki Sunda Eddie Soekardi juga menilai kearifan budaya leluhur masih sangat relevan. Misalnya kata-kata arif dari Raja Sunda Padjadjaran Prabu Siliwangi, &#8220;Pakena gawe rahayu pakeun heubeul jaya di buana, pakeun nanjeur di buritan.&#8221; Adapun artinya, &#8220;tegakkan kebajikan agar lama berjaya dibumi, agar menang perang&#8221;. </p>
<p>Konsolidasi budaya bukanlah suatu proses instan. Hasil penyelesaian budaya memang lambat, tetapi bisa menjadi fondasi yang kuat. Fundamen itulah yang pada gilirannya diharapkan bisa melahirkan nasionalisme kultural dan religius, yang melampaui nasionalisme teritorial. </p>
<p>Prahara dan ancaman disintegrasi yang berakar pada disintegrasi budaya dan moral perlu penyelesaian yang tepat. Pakistan, Turki dan Sudan menurutnya, bisa menjadi cermin bahwa penyelesaian budaya bisa mengatasi ekses negatif reformasi. Sedangkan cara politik yang sering melahirkan perpecahan dan pertikaian, dianggap telah gagal mengambil peran itu. </p>
<p>Berdirinya Forum Ki Sunda ini menambah daftar organisasi berbasis kultural di Tatar Sunda dalam hal ini Jawa Barat. Hal ini merupakan pertanda semakin banyaknya yang peduli terhadap pentingnya symbol dan nilai kasundaan dalam upaya penemuan kembali jatidiri. Pencarian titik koordinat yang kelak menjadi starting point dalam berbuat. </p>
<p>Tetapi dibalik semua cita-cita rekonstruksi identitas dan karakter Forum Ki Sunda tersebut, sempat mengundang tanya masyarakat terhadap keberadaannya. Karena sederet nama elit organisasi kemasyarakatan tertentu namanya tercantum dalam struktur kepengurusan Forum Ki Sunda. Sehingga banyak yang beranggapan bahwa Forum Ki Sunda ini merupakan kepanjangan tangan bagi kepentingan partai politik tertentu. Namun tudingan politisasi dan eksploitasi terhadap Budaya Sunda ini dibantah oleh Agil. </p>
<p>&#8220;Forum ini steril dari kepentingan politik ataupun primordialisme,&#8221; demikian menurut salah seorang pendiri Forum Ki Sunda Prof. Dr. KH. Said Agil Siradj. </p>
<p>* Sumber: Republika, Senin 29 Januari 2001.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sundanet.com/?feed=rss2&amp;p=4</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>LALAB DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT SUNDA</title>
		<link>http://www.sundanet.com/?p=5</link>
		<comments>http://www.sundanet.com/?p=5#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 1999 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Dalam budaya dan kehidupan masyarakat Sunda, lalab sudah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan sejak dahulu. Kalau dahulu lalab memiliki arti tersendiri dalam kehidupan tradisi di pedesaan, sekarang sudah merupakan bagian dari lingkungan kehidupan modern masyarakat kota.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam budaya dan kehidupan masyarakat Sunda, lalab sudah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan sejak dahulu. Kalau dahulu lalab memiliki arti tersendiri dalam kehidupan tradisi di pedesaan, sekarang sudah merupakan bagian dari lingkungan kehidupan modern masyarakat kota. Lalab yang terdiri dari daun, pucuk, buah muda atau biji tanaman segar, sudah merupakan bagian dari program WHO &#8220;back to nature&#8221; atau makanan kaya serat, mineral dan vitamin untuk kesehatan dan kebugaran. </p>
<p>Lalab atau sayuran merupakan makanan berserat. Karenanya memakan lalab dan sayuran mentah akan banyak manfaatnya untuk kesehatan dan kebugaran tubuh serta kehalusan dan keindahan kulit, terutama untuk kulit muka wanita. Kalau masyarakat Barat (khususnya Eropa dan Amerika) bangga terhadap makanan segar asal tanaman yang disebut salads, maka masyarakat Indonesia juga bangga dengan &#8220;lalab&#8221; khususnya bagi kalangan masyarakat Sunda. </p>
<p>Obat peningkat &#8220;gairah&#8221;, tidak selamanya harus berasal dari obat hasil pabrikan yang mengandung banyak unsur kimia. Dalam hal ini kalau terus menerus dikonsumsi akan mempunyai efek samping. Obat-obatan yang berasal dari bahan-bahan alami seperti tanaman khususnya bagian dari tertentu yang berkhasiat sebagai obat dapat meningkatkan gairah. </p>
<p><b>Lalab &#8220;Tempo Doeloe&#8221;</b></p>
<p>Dari catatan lama tentang adat, kebiasaan dan tradisi orang Sunda, yang disebut lalab &#8220;tempo doeloe&#8221; umumnya berbentuk daun muda atau pucuk tanaman dari tumbuh-tumbuhan liar, baik yang ditemukan di hutan, sawah, kebun serta tempat-tempat lainnya. Jenis-jenis dari tanaman lalab tempo doeloe yang sekarang masih ada bahkan masih bisa dibeli atau didapatkan, serta jenis tanaman yang hanya tinggal kenangan merupakan masalah yang belum banyak dibicarakan. Misalnya saja antanan, gelang, gewor, godobos, jotang, jonge, sintrong dan senggang, saat ini masih bisa didapatkan di pedesaan. Walau dalam keadaan sudah langka, lalab tempo doeloe seperti bunut, jambu mede, jambu bol, koang, kosambi, kemang, kihapit, lampeni, mareme, putat dan sebagainya, kadang-kadang masih bisa ditemukan juga. </p>
<p><b>Lalab di Tempat Kondangan</b> </p>
<p>Kehadiran lalab - sambal pada acara kondangan di Jawa Barat, sudah merupakan hal yang umum dan biasa. Misalnya untuk mengurangi peningkatan kadar kolesterol dalam darah yang diakibatkan makanan berlemak, dengan memakan lalab akan banyak menolong dalam menurunkan kadar lemak dalam darah. Tercatat lebih dari 10 jenis lalab yang umumnya ditemukan pada acara kondangan seperti kubis, buncis, ketimun, labu muda, paria, kacang panjang, imba (kedondong cina), daun ketela, terung, tespong dan surawung. </p>
<p><b>Lalab di Rumah Makan Sunda</b></p>
<p>Keberadaan rumah makan ke-Sunda-an ternyata bukan hanya di daerah Jawa Barat saja, tetapi sudah merambah ke daerah di luar Jawa Barat. Lalab sambal merupakan daya tarik yang khas pada rumah makan Sunda disamping pepes ikan, cobek ikan, ikan bakar dan sebagainya. Rasanya makanan kurang nikmat kalau didalam menunya tidak terhidang lalab dengan sambalnya. Beberapa jenis lalab yang sudah biasa dihidangkan adalah daun ketela pohon, jaat, jengkol, leunca, petai, seladah air, serawung, terung dan tespong. </p>
<p><b>Lalab dan Penyakit Masa Kini</b></p>
<p>Tanaman sejak pucuk, daun, bunga, buah, batang dan umbi mengandung zat gizi yang baik untuk pertumbuhan dan kesehatan tubuh. Beberapa lalab yang berkhasiat untuk pencegahan dan penyakit adalah sebagai berikut:<br />

<ul type=square>

<li>Kencing manis/diabetes mellitus: bisa diobati dengan 3 jenis makanan/lalab, yaitu koneng gede, temulawak, jengkol dan petai.<br />

<li>Penyakit Maag: bisa diobati dengan kunyit (kunir atau koneng), caranya adalah dengan memarut kunyit, tambahkan air matang, disaring tambahkan sebutir kuning telur, dan diminum setiap hari setelah sarapan pagi.<br />

<li>Obat lemah syahwat dan awet muda: Dengan mencampur 5 buah kembang sirih kering ditambah sedikit merica dan ragi kue, digerus hingga hancur menjadi tepung.<br />

<li>Obat peningkat &#8220;gairah&#8221;: Kalau rutin memakan biji wijen, biji waluh/labu besar, ginseng, dikeringkan dan dibuat serbuk serta diseduh air akan bisa meningkatkan gairah.<br />

<li>Bau mulut dan badan: Dengan sering makan lalab daun beluntas atau meminum rebusan daun sirih.<br />
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sundanet.com/?feed=rss2&amp;p=5</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Minawoh Pandawa Lilima</title>
		<link>http://www.sundanet.com/?p=6</link>
		<comments>http://www.sundanet.com/?p=6#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 1999 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Dina raraga mekarkeun sareng ngawanohkeun Seni Sastra Padalangan, urang cobi pedar Seni Sastra Padalangan ieu anu dikawitan ku ngawanohkeun tokoh-tokoh Pandawa Lilima sareng tokoh sanesna nu mibanda watek sareng tabiat nu rupi-rupi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dina raraga mekarkeun sareng ngawanohkeun Seni Sastra Padalangan, urang cobi pedar Seni Sastra Padalangan ieu anu dikawitan ku ngawanohkeun tokoh-tokoh Pandawa Lilima sareng tokoh sanesna nu mibanda watek sareng tabiat nu rupi-rupi. Mangga urang cobian pedar hiji-hiji diantawisna: </p>
<p><b>Prabu Pandu Dewanata</b><br />
<br />Raden Pandu Dewanata putra Bagawan Abiyasa (Kresna Dipayana) ti Dewi Ambalika. Rakana namina Destarata, ari rayina Raden Yamawidura. Pandu kagungan wanda sampulur, satria nu kalintang kasepna sareng sakti mandraguna. Jalaran kitu anjeunna dijadikeun raja di nagara Astina. Nu jadi garwa Pandu dua urang, nyaeta Dewi Kunti Nalibrata sareng Dewi Madrim. Pandu Dewanata kagungan putra lima, anu disebat Pandawa Lilima. Putra cikalna nyaeta Samiaji biasa disebat Darmakusumah, nu nomer dua Bima atanapi Bratasena, katilu Arjuna, kaopat Nakula sareng nu bungsu Sadewa. Dewi Kunti putrana tilu nyaeta Samiaji, Bima sareng Arjuna. Anu kembar nyaeta Nakula sareng Sadewa putra Pandu ti Dewi Madrim. Pandu pupus ku supata Resi Kumindana. Sateuacan pupus anjeunna nitipkeun nagara Astina sareng kulawargana ka Destarata. </p>
<p><b>Dewi Kunti Nalibrata</b><br />
<br />Dewi Kunti Nalibrata teh putra raja Kuntiboja ti Nagara Mandura. Dewi Kunti kagungan raka wastana Basudewa. Sateuacan nikah Dewi Kunti kakandungan sacara teu wajar. Didieu Batara Surya nu kagungan dosa, sanggem ngaluarkeun jabang bayi tina cepil Dewi Kunti. Kumargi kitu wasta eta bayi teh Karna, nu hartosna cepil. Salami janten prameswari Pandu Dewanata, Dewi Kunti kagungan putra tilu. Nu cikal jenengannana Darma Kusumah, nu kadua Bratasena, nu bungsu nyaeta Arjuna. Putra nu hiji deui nyaeta Karna ti Batara Surya. </p>
<p><b>Darmakusumah</b><br />
<br />Darmaksumah biasa disebat Puntadewa atanapi Kontea. Jalaran anjeunna putra Pandu nu pangageungna, nya dijantenkeun raja di Amarta. Nalika di leuweung (alas) Amer, Kontea ngawonkeun raja Siluman, jenengannana Darmakusumah. Nya ti waktos harita Kontea nganggo lalandian Darmakusumah. Alas Amer janten nagara Amarta. Darmakusumah kagungan garwa ka Dewi Drupadi putra raja Drupada ti nagara Cempala Dirja. Aranjeunna kagungan putra pameget, jenengannana Raden Pancawala. Prabu Darmakususmah raja Amarta nu minandita. Anjeunna sabar tawekal, adil, wijaksana sareng mikaasih ka rahayatna. Salami gumelar di marcapada anjeunna teu acan kantos nganyerikeun jalmi. Anjeunna oge kagungan jimat Jamus layang kalaimasadha. </p>
<p><b>Bratasena (Bima)</b><br />
<br />Bratasena sok biasa disebat Bima, Werkudara, Sena atanapi Bilawa. Waktos dibabarkeun masih keneh dibungkus lamad. Soehna eta bungkus diamuk ku Gajah Sena. Nya tiharita disebat Sena. Dedegan Sena jangkung ageung, simbar dada, bosongot bade amprotan. Godeg, janggot sareng kumisna rambosbos bewos sareng rambutna gimbal. Sipatna jujur, tara linyok tara bohong, sacangreud pageuh sagolek pangkek. Anjeunna tara nyebatkeun kawon atanapi sieun dina mayunan sagala perkawis. Jalaran kitu anjeunna didamel bebenteng Amarta. Bratasena kagungan garwa tilu. Nu kahiji jenengannana Dewi Badawangwati puputra Jakatawan, nu kadua Dewi Nagagini putraan Raden Antareja, sareng nu pamungkas Dewi Arimbi kagungan putra Raden gatotgaca. </p>
<p><b>Arjuna</b><br />
<br />Arjuna teh putra Pandu nu panengah, numawi sok disebat Panengah Pandawa. Anjeunna salahsawios satria nu sampulur. Rarayna bodas ngadaun seureuh, damis gula sapasi, soca sipit, angkeut endog sapotong. Sipatna ampuh lungguh, lantip sareng tartib, amis budi sae basa hade tata, hormat tilawat ka sepuh, sumujud ka guru, takwa kanu Maha Kawasa. Arjuna satria nu gagah sakti mandraguna. Kenging disebatkeun lalaki langit lalanang jagat. Watekna dipiasih ku istri dipinyaah ku somah. Numawi janten panonoban para mojang, rebutan para Kania. Arjuna kagungan istrina seueur pisan. Nanging nu saleresna mah mung Dewi Subadra putra Prabu Basudewa ti Mandura, sareng Dewi Srikandi putra Prabu Drupada ti nagara Cempala Dirja. Putra ti Dewi Subadra nyaeta Raden Abimanyu. Arjuna nyepeng kalungguhan minangka Adipati di Madukara. </p>
<p><b>Nakula Sadewa</b><br />
<br />Nakula sareng Sadewa teh kembar, putra Pandu Dewanata ti Dewi Madrim. Ti bureyna keneh, eta putra kembar teh parantos dikantunkeun ku ibu ramana. Jalaran kitu eta dua Pandawa teh dirorok ku Dewi Kunti sasarengan sareng para Pandawa sanesna. Dina carios Pandawa nyamar di Nagara Wirata, Nakula digentos namina janten Pinten, Sadewa jadi Tangsen. Aranjeunna satria kembar anu ngulik dina bagbagan tatanen sareng miara sasatoan, kanggo ngaronjatkeun kahuripan sareng kahirupan. </p>
<p><b>Batara Kresna (Bangbang Arayana)</b><br />
<br />Bangbang Arayana teh nami Kresna nuju rumaja. Anjeunna putra Prabu Basudewa raja Mandura. Arayana kagungan raka nyaeta Raden Kakrasana atanapi Prabu Baladewa sareng kagungan rayi istri sarama ti Dewi Badraini nu wastana Dewi Subadra atanapi Dewi Mayang Arum. Prabu Kresna teh titisan Dewa Wisnu salirana camani (hideung), jalaran kitu sok biasa disebat Batara Kresna. Anjeunna jadi Raja di nagara Dwarawati. Prabu Kresna pinter nyarios, gagah sakti. Anjeunna kagungan senjata panah Cakra nu ampuh, oge jimat Kembang Cangkok Wijayakusumah kangge ngadamangkeun nu teu damang atanapi nu pupus sateuacan waktosna. Nalika Barata Yudha, Kresna jadi juru taktik perang ti pihak Pandawa. Sadayana musush tiasa dikawonkeun ku para Pandawa ku siasatna Batara Kresna. </p>
<p><b>Raden Gatotgaca</b><br />
<br />Gatotgaca teh putra Bima ti Dewi Arimbi ratu Pringgandani. Raden Gatotgaca kagungan garwa ka Dewi Pergiwa putra Raden Arjuna, puputra Bangbang Kaca. Waktos dibabarkeun tali ari-arina teu tiasa dipegatkeun, nya tiasa dipegatkeun ku senjata Konta. Anu kapapancenan megatkeunnana nyaeta Arjuna. Dina carios Barata Yudha, Raden Gatotgaca seueur nelasan para Korawa. Gatotgaca perlaya ku Konta kagungan Adipati Karna. </p>
<p><b>Semar Badranaya</b><br />
<br />Semar Badranaya nyaeta salahsawios badega, nu bela tumutur ka para Pandawa. Semar sok biasa disebat Lurah Semar Kudapawana. Semar teh kawitna mah kasep ngalempereng koneng, terah Dewa nu sakti pilih tanding, jenengannana Batara Ismaya atanapi Sang Hiyang Munget putra Sang Hiyang Wenang. Wujud Semar salin jinis sapertos nu ayeuna dipikaterang ku urang kumargi nelasan rayina nyaeta Sang Hiyang Rancasan sasarengan sareng rayina nu namina Sang Hiyang Antaga jalaran palay ngapimilik pusaka jimat Jamus Layang Kalimasadha. Kangge tambi keueung Ki Lurah Semar nyiptakeun tilu putra nyaeta Cepot/Astrajingga, Udel/Dawala, sareng Garfeng nu paripolahna pikalucueun. Ki Semar kagungan garwa ka Dewi Sutiragen.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sundanet.com/?feed=rss2&amp;p=6</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>ASEP SUNANDAR SUNARYA</title>
		<link>http://www.sundanet.com/?p=11</link>
		<comments>http://www.sundanet.com/?p=11#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 1999 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inohong]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Jenis kesenian wayang golek memiliki fenomena tersendiri di dalam dunia kesenian. Keberadaannya masih terus dipertahankan agar tetap hidup sebagai salah satu khazanah Budaya Sunda, meskipun pementasannya dewasa ini sudah sangat langka dan terbatas pada tempat serta kesempatan tertentu saja. 
<br />
<br />Bila mendengar nama Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya, maka kita akan langsung dapat mengingat Kesenian Wayang Golek yang merupakan salah satu warisan paling berharga untuk dilestarikan. Nilai-nilai luhung Seni dan Budaya Sunda.
<br />Wayang Golek versi Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya cenderung bergaya kontemporer. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jenis kesenian wayang golek memiliki fenomena tersendiri di dalam dunia kesenian. Keberadaannya masih terus dipertahankan agar tetap hidup sebagai salah satu khazanah Budaya Sunda, meskipun pementasannya dewasa ini sudah sangat langka dan terbatas pada tempat serta kesempatan tertentu saja. </p>
<p>Bila mendengar nama Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya, maka kita akan langsung dapat mengingat Kesenian Wayang Golek yang merupakan salah satu warisan paling berharga untuk dilestarikan. Nilai-nilai luhung Seni dan Budaya Sunda.<br />
<br />Wayang Golek versi Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya cenderung bergaya kontemporer. </p>
<p>Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya dilahirkan pada tanggal 3 September 1955 merupakan putera ke-7 dari 13 bersaudara putera-puteri Ki Dalang legendaris Abah Sunarya dengan Ibu Cucun Jubaedah.<br />
<br />Abah Sunarya merupakan pemilik sekaligus pendiri Perkumpulan Seni Wayang Golek Giri Harja. Selain Asep Sunandar Sunarya, anak Abah Sunarya lainnya yang berprofesi sebagai dalang adalah Ade Kosasih Sunarya, Iden Subasrana Sunarya, Ugan Sunagar Sunarya, Agus Muharam dan Imik Sunarya. </p>
<p>Asep Sunandar Sunarya yang memiliki nama kecil Sukana dalam perilaku kesehariannya sejak duduk di bangku SD sudah menampakan sosok pribadi yang kreatif dan dinamis dalam bergaul dengan sesama teman-temannya. </p>
<p>Selesai mengenyam pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD) pada tahun 1968, Asep melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pada masa-masa itu konsentrasi belajarnya banyak terganggu oleh hobinya mendalami ilmu pedalangan sampai lulus SMP tahun 1971.<br />
<br />Tekadnya untuk segera bisa mendalang termotivasi oleh ayahnya Abah Sunarya dan kakaknya Ade Kosasih Sunarya serta pamannya Lili Adi Sunarya. Selain itu juga Asep Sunandar Sunarya menimba ilmu pedalangan dengan belajar pada dalang Cecep Supriadi, dalang kondang dari Karawang. </p>
<p>Asep Sunandar Sunarya dengan cara bersungguh-sungguh mengikuti Penataran Dalang yang diselenggarakan RRI Bandung pada tahun 1972 dan tercatat sebagai Lulusan Terbaik.<br />
<br />Padepokan Giri Harja pada tahun 1987 diresmikan sebagai Pusat Belajar Seni Pedalangan oleh Menteri Penerangan RI yang pada saat itu dijabat Harmoko. Keberadaan Padepokan Giri Harja sangat berpengaruh terhadap prestasi, kreasi dan motivasi Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya sebagai Dalang Wayang Golek Kontemporer. </p>
<p>Pengalaman serta prestasi yang telah diraihnya diantaranya sebagai Juara Dalang Pinilih I Jawa Barat pada Binojakrama Padalangan di Bandung tahun 1978 dan tahun 1982. Sedangkan pada tahun 1985 Asep terpilih menjadi Dalang Juara Umum tingkat Jawa Barat dan memboyong Bokor Kancana.</p>
<p>Pengalaman Asep Sunandar Sunarya melakukan muhibah ke luar negeri tercatat pada tahun 1986 sebagai Duta Kesenian ke Amerika Serikat. Tahun 1993 Institut International De La Marionnete di Charleville Prancis meminta Asep Sunandar Sunarya sebagai Dosen Luar Biasa selama 2 bulan serta diberi gelar Profesor oleh Masyarakat Akademis Prancis. Terakhir pada tahun 1994 Asep melakukan pentas keliling negara-negara di kawasan Eropa. </p>
<p>Kehadiran Tokoh Dalang sekaliber Asep Sunandar Sunarya telah memberikan kontribusi bagi seni pedalangan khususnya Wayang Golek sebagai warisan seni dan budaya milik masyarakat Jawa Barat.<br />
<br />Konsep serta kreativitas pertunjukan Wayang Golek Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya telah memberikan warna dan gaya tersendiri. </p>
<p>Gaya pertunjukkan Wayang Golek Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya merupakan nuansa baru yang muncul di lingkungan Dinasti Sunarya. Hal yang paling menarik dan meruapakan ciri khas Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya ini adalah kepiawaiannya dalam mengolah gerak atau sabetan wayang dengan tampilan humor atau banyolan yang sentimentil, luwes dan segar. </p>
<p>Mengenai pegangannya pada Pakem Wayang dikaitkan dengan kreasinya yang disebut orang kontemporer seperti pada pertunjukkan wayang ketika dipukul kepalanya dapat mengeluarkan darah atau perkelahian antara Si Cepot dengan lawannya sampai &#8220;Buta&#8221; atau ketika lawannya mengeluarkan &#8220;mie&#8221;, Kang Asep mengemukakan bahwa hal itu tidaklah keluar dari pakem. Hal ini hanyalah merupakan suatu upaya visualisasi dengan cara memvisualkan cerita dalang-dalang terdahulu. </p>
<p>* Sumber: Cahya Hedy, S.Sen, Asep Sunandar Sunarya Tokoh dan Kreator Pedalangan Sunda, STSI Bandung, 1999.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sundanet.com/?feed=rss2&amp;p=11</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>H. DIDIN D. BASOENI</title>
		<link>http://www.sundanet.com/?p=12</link>
		<comments>http://www.sundanet.com/?p=12#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 1999 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inohong]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Sebagaimana kita ketahui bersama hampir semua surat kabar di Indonesia memiliki tokoh kartun. Satu diantara tokoh kartun yang dikenal oleh masyarakat Jawa Barat adalah Mang Ohle. Hal ini dikarenakan secara periodik Mang Ohle senantiasa mengunjungi penggemarnya pada setiap hari Sabtu melalui HU Pikiran Rakyat.
<br />
<br />H. Didin D. Basoeni sebagai kartunis generasi ketiga dari sosok Mang Ohle selalu lekat di hati masyarakat pembacanya. H. Didin D. Basoeni cukup lama menekuni pekerjaannya sebagai Wartawan HU Pikiran Rakyat. Didin tercatat sebagai anggota PWI sejak tahun 1966. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengertian &#8220;kartun&#8221; dalam dunia seni rupa adalah rancangan awal dari sebuah lukisan dinding, rancangan arsitektur atau sket untuk karpet. Pengertian kartun yang kita kenal sekarang dimulai tahun 1843 ketika majalah Inggris Punch memuat lukisan karya John Leech yang merupakan parodi dari lukisan dinding yang akan menghiasi Gedung Parlemen di London. Sejak saat itu tema kartun dipakai untuk menyebut lukisan yang mengandung unsur satir, kelakar atau humor. </p>
<p>Sebagaimana kita ketahui bersama hampir semua surat kabar di Indonesia memiliki tokoh kartun. Satu diantara tokoh kartun yang dikenal oleh masyarakat Jawa Barat adalah Mang Ohle. Hal ini dikarenakan secara periodik Mang Ohle senantiasa mengunjungi penggemarnya pada setiap hari Sabtu melalui HU Pikiran Rakyat. </p>
<p>Mang Ohle merupakan Tokoh Kartun dari Bandung yang paling tua dan masih malang-melintang dalam dunia pers. Tokoh Kartun Mang Ohle muncul untuk pertama kalinya pada tahun 1955 dan divisualisasikan oleh Sutedjo setelah melalui diskusi panjang di jajaran redaksi Harian Pikiran Rakyat. </p>
<p>Sosok Tokoh Kartun Mang Ohle dalam penampilannya dapat memecahkan berbagai masalah sekalipun masalah itu pelik dan sulit. Penampilan Mang Ohle yang agak gemuk dan tidak pernah lepas dari kaus hitam, sarung dan peci yang &#8220;dempek&#8221; atau lebih pendek dari ukuran normal. Peci demikian di Jawa Barat saat ini lebih dikenal dengan nama Peci Mang Ohle. Mang Ohle dan isterinya Bi Ohle, memiliki dua orang anak yakni si Ujang dan si Nyai. </p>
<p>Hal ini merupakan sebuah gambaran ideal dari sebuah keluarga kecil. Pada tahun 1963 Mang Ohle berganti tuan yakni Soewardi Nataatmadja dan menggambarnya selama 19 tahun. Tahun 1983 kembali Mang Ohle berganti kartunis, kali ini T.Sutanto. Setahun kemudian, hadir Didin D. Basoeni yang mempertahankan karakternya sampai sekarang. </p>
<p>Sebagai catatan Mang adalah panggilan akrab dalam Bahasa Sunda untuk orang yang lebih tua yang berarti paman. </p>
<p>H. Didin D. Basoeni sebagai kartunis generasi ketiga dari sosok Mang Ohle selalu lekat di hati masyarakat pembacanya. H. Didin D. Basoeni cukup lama menekuni pekerjaannya sebagai Wartawan HU Pikiran Rakyat. Didin tercatat sebagai anggota PWI sejak tahun 1966. </p>
<p>Sosok Didin D. Basoeni yang low profile ini, lahir di Ciparay Kabupaten Bandung pada tanggal 22 September 1943. Saat ini memegang jabatan sebagai Wakil Pimpinan Umum/Pemimpin Redaksi SKM &#8220;Mitra Bisnis&#8221; Surat Kabar terbitan Pikiran Rakyat Group. </p>
<p>Ayah dari tiga orang putera, buah perkawinannya dengan isterinya yang tercinta Hj. Ratna Komala ini memiliki banyak pengalaman kerja. Selain menggambar, Didin D. Basoeni juga piawai dalam menulis cerpen dan puisi dan dimuat di berbagai media cetak baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa Sunda mulai tahun 1960. Selain itu juga pernah bekerja di Redaksi Majalah Langensari, Kancil, Pitaloka, Mandala, Galura dan sebagai pencetus majalah musik &#8220;Aktuil&#8221;. Kartunis yang menampilkan sosok Mang Ohle sebagai seorang bapak yang bijak, sederhana dan pintar ini juga berprofesi sebagai guru di salah satu SMP swasta di Kota Bandung. </p>
<p>H. Didin D. Basoeni menempuh pendidikannya mulai dari SR, SMP, SMA dan Seni Rupa ITB. Selain pernah mengenyam pendidkan di Fakultas Hukum Uninus, Didin juga pernah mengikuti berbagai penataran. Bersama tokoh-tokoh kartun lainnya, yaitu Panji Koming (Harian Kompas), Pak Tuntung (Harian Analisa Medan), Pak Bei dan I Brewok dari Bali, pada tanggal 13 Maret tahun 2000, Mang Ohle diangkat menjadi desain prangko dalam penerbitan bertajuk Tokoh Kartun. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sundanet.com/?feed=rss2&amp;p=12</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Drs. Djaelani Hidayat, Ak.</title>
		<link>http://www.sundanet.com/?p=13</link>
		<comments>http://www.sundanet.com/?p=13#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 1999 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Inohong]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Inohong Sunda yang muncul kali adalah Drs. Djaelani Hidayat, Ak. Beliau pernah menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya pada masa awal pemerintahan Presiden K.H. Abdurahman Wahid.
<br />
<br />Drs. Djaelani Hidayat, Ak. Merupakan sosok pribadi yang telah lama mengabdi di PT. Pos Indonesia, dengan jabatan terakhir sebagai Direktur Keuangan. Saat ini beliau dipercaya memegang amanah sebagai salah seorang Komisaris di BUMN tersebut. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Inohong Sunda yang muncul kali adalah Drs. Djaelani Hidayat, Ak. Beliau pernah menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya pada masa awal pemerintahan Presiden K.H. Abdurahman Wahid.</p>
<p>Drs. Djaelani Hidayat, Ak. Merupakan sosok pribadi yang telah lama mengabdi di PT. Pos Indonesia, dengan jabatan terakhir sebagai Direktur Keuangan. Saat ini beliau dipercaya memegang amanah sebagai salah seorang Komisaris di BUMN tersebut. </p>
<p>Djaelani Hidayat dilahirkan pada hari Minggu tanggal 16 Juni 1937, di Kampung Ciburial Padalarang Kabupaten Bandung. Ayahnya bernama Rd.H. Ukon Mustopha dan ibunya Hj. Siti Satiah. </p>
<p>Masa kecil Hidayat dihabiskannya di tempat kelahirannya yakni Padalarang. Saat memasuki usia SD Hidayat kecil dibawa &#8220;ngumbara&#8221; oleh kedua orang tuanya ke daerah Plered Wilayah Purwakarta sampai kelas 4 SD. Sejak kelas 4 sampai kelas 6 SD Hidayat menempuh pendidikannya di SD Bojong.</p>
<p>Tempat tinggalnya saat itu di Kampung Cineam Kecamatan Wanayasa yang jaraknya ke sekolah sekitar 4 Km. Saat itu Hidayat menempuh perjalanan ke sekolah dengan jalan kaki setiap harinya. Penugasan ayahnya sebagai guru membuatnya sering berpindah tempat termasuk ke Wanayasa karena ayahnya mendapat tugas sebagai guru di SD Bojong. </p>
<p>Hidayat dalam kesehariannya berpenampilan low profile dan &#8220;handap asor&#8221;. Dengan penuh suka cita Hidayat menceritakan masa kecilnya yang penuh kenangan.<br />
<br />Sewaktu di Plered mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 4 SD, Hidayat kecil tidak pernah masuk ranking di kelasnya. Mungkin hal itu disebabkan Hidayat kecil tinggal bersama pamannya dan jarang mendapat teguran ataupun perhatian khususnya dengan masalah sekolahnya. </p>
<p>Setelah di kelas 5 SD barulah Hidayat menempati ranking pertama. Sedangkan sewaktu di kelas 6 SD menempati ranking kedua, karena yang menjadi juara pertama pada waktu itu adalah putera Kepala Sekolahnya. Keinginan untuk melanjutkan sekolah ke SGB begitu menggebu di benak Hidayat. </p>
<p>Saat itu SGB merupakan sekolah &#8220;rebutan&#8221;. Keinginan tersebut ternyata kandas. Karena saat diperiksa oleh pihak sekolah, ditemukan tanda putih disalah satu bagian tubuhnya. Menurut kepercayaan gurunya hal ini tidak akan membawa kebaikan. Sebagai alternatif lainnya, Hidayat melanjutkan pendidikannya ke salah satu SMP di Kota Purwakarta dan tinggal bersama uanya di Plered. </p>
<p>Setiap hari Hidayat muda pulang pergi Plered-Purwakarta menggunakan Kereta Api yang saat itu ditempuh sekitar 1 jam. Menginjak kelas 2 sampai dengan kelas 3 SMP Hidayat muda kos di Kota Purwakarta yang tidak jauh dari sekolahnya.<br />
<br />Masih diingatnya biaya kos saat itu sebesar Rp.80 setiap bulannya. Dalam menghemat biaya serta untuk mengikuti keinginannya yang menggebu sehingga bisa lebih maju, Hidayat rela menyisihkan uang sakunya untuk membeli buku-buku terutama buku Bahasa Inggris. </p>
<p>Selepas SMP Hidayat bekerja di Kantor Pos Bandung yang pada waktu itu masih bernama Kantor Pos dan Telegraf I Bandung. Masih diingatnya, untuk pertama kali ditempatkan di Kantor Pos dan Telegraf I Bandung tanggal 25 Agustus 1955 di bagian sortir surat dan loket.</p>
<p>Untuk meningkatkan kemampuannya, sambil bekerja Hidayat melanjutkan sekolah ke SMA Jayabaya di Jl. Balonggede Bandung. Tidak lama kemudian Hidayat pindah ke SMA Ksatria jurusan C di Jalan Pabaki Bandung sampai lulus dan meraih rangking pertama.<br />
<br />Lulus SMA sambil bekerja di Pos dan Telegraf Hidayat mengajar di kelas III SMA serta melanjutkan kuliah ke Fakultas Sosial Politik Unpad. Pada usia yang relatif muda ketika 27 tahun, pada tahun 1965 Hidayat telah dipercaya oleh Yayasaan menjadi Direktur SMA. </p>
<p>Berbekal ketekunan serta keuletannya suami dari Ibu Tien Kartini, serta ayah dari lima putera-puterinya yang semuanya sudah mandiri ini, telah mengantarkan dirinya sebagai salah seorang Inohong dan Putera Daerah Terbaik dari Tatar Sunda. Berbekal ketekunan dan daya juangnya yang tinggi Drs. Djaelani Hidayat, Ak. pernah diberi amanah oleh Presiden K.H. Abdurahman Wahid untuk memegang tampuk kepemimpinan sebagai Menteri yang membawahi Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya. </p>
<p>Berbicara mengenai kondisi pariwisata di Jawa Barat, Hidayat mengatakan kondisinya masih jauh ketinggalan apabila dibandingkan dengan Yogjakarta. Wisatawan yang datang ke Yogjakarta pada umumnya langsung mendapat suguhan Paket Wisata berupa tontonan Pagelaran Wayang Kulit, Ketoprak, pertunjukan tari, dan lain-lain. Selain berkunjung ke beberapa obyek wisata yang ada, seperti wisata alam, wisata budaya serta wisata industri. </p>
<p>Hidayat juga menyayangkan, pertunjukkan kesenian yang rutin di Jawa Barat hanya Saung Angklung Mang Udjo itu juga berlangsung pada siang hari. Sedangkan pada malam harinya, jarang ada pertunjukkan yang rutin. Hal ini memerlukan adanya koordinasi yang lebih intensif dari Dinas Pariwisata Daerah dengan PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia), ASITA (Asosiasi Travel Agen) serta Hotel. Sehingga dapat melakukan pembinaan secara lintas sektoral khususnya dalam melakukan pembinaan terhadap para seniman dan masalah-masalah yang berkaitan dengan kebudayaan. </p>
<p>Perlu kesadaran bersama baik dari kalangan masyarakat maupun aparat birokrat, bahwa wisatawan itu secara ekonomis sangat menguntungkan sebagai penunjang pendapatan devisa negara secara nasional khususnya bagi Wisatawan Mancanegara (Wisman). Sedangkan di Era Otonomi Daerah ini sektor kepariwisataan merupakan andalan utama yang akan memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah Setempat (PADS). Dengan demikian roda ekonomi bisa berjalan apabila ditunjang oleh para wisatawan baik yang datang secara rombongan maupun perorangan, apakah itu Wisatawan Nusanatara (Wisnu) maupun Wisman. </p>
<p>Pengalaman kerjanya di PT. Pos Indonesia, Hidayat mengatakan setelah lulus SMA pindah ke Bagian Keuangan dengan Pangkat Golongan IIA. Sewaktu lulus Sarjana Muda pada tahun 1967, pangkatnya naik menjadi Golongan IIC. </p>
<p>Setelah lulus S1 dari Fakultas Ekonomi Unpad, pangkatnya dinaikkan menjadi Kepala Urusan Pembukuan dengan Golongan IIIA. Hal yang masih menjadi kebanggaannya sampai saat ini adalah ketika karyanya berupa pembuatan perhitungan harga pokok tarif Pos dipakai sebagai rujukan yang menjadi bahasan Dirjen Postel dan Menteri Perhubungan yang pada waktu itu masih dijabat oleh Prof.DR. Emil Salim. </p>
<p>Mengenai pandangannya tentang manusia Sunda yang Nyunda, yakni harus handap asor, lemes budi serta bahasanya. Selain itu juga anggah-ungguhnya harus memperlihatkan sebagai orang Sunda serta tidak adigung adiguna yang apabila diterjemahkan secara bebas berarti sombong.</p>
<p>Disayangkannya, pemakaian Bahasa Sunda saat ini sudah jarang dipakai dalam pemakaian sehari-hari oleh Keluarga Sunda. Demikian keprihatinan Drs. Djaelani Hidayat, Ak. Inohong Sunda yang pernah menjabat Menteri. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sundanet.com/?feed=rss2&amp;p=13</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>PORTAL KOMUNITAS SUNDA</title>
		<link>http://www.sundanet.com/?p=18</link>
		<comments>http://www.sundanet.com/?p=18#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 1999 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bewara]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Bagi yang merasa punya derah asal Jawa Barat, kini Anda boleh merasa senang karena hadir komunitas khusus yang namanya SundaNet.com. Situs yang mengajak Anda lebih mengenal pernak-pernik kehidupan masyarakat Sunda.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b>detikcom - Jakarta.</b> Bagi yang merasa punya derah asal Jawa Barat, kini Anda boleh merasa senang karena hadir komunitas khusus yang namanya SundaNet.com. Situs yang mengajak Anda lebih mengenal pernak-pernik kehidupan masyarakat Sunda. </p>
<p>Menurut pengelolanya, SundaNet.com, situs ini sengaja dibuat dengan tujuan tunggal, yaitu sebagai sarana pengenalan dan pelestarian kultur budaya masyarakat Sunda. Sesuai identitasnya, Portal Komunitas Sunda, tidak heran jika beberapa penamaan yang digunakan disini menggunakan sentuhan bahasa Sunda seperti &#8220;wilujeng sumping&#8221;, &#8220;inohong&#8221;, juga &#8220;ngadu bako&#8221;. </p>
<p>Lewat fitur-fiturnya Anda bisa temukan profil Jawa Barat. Informasi seputar kota dan kabupaten ada di fitur &#8220;Profil Jabar&#8221;. Profil tokoh Sunda bisa Anda temukan pada fitur &#8220;Inohong&#8221;. Dan masih banyak lagi hal lain yang bisa Anda kais dari fitur &#8220;Potensi Ekonomi&#8221;, &#8220;Pendidikan&#8221;, hingga informasi kesenian dan budaya Sunda pada fitur &#8220;Seni dan Budaya&#8221;. </p>
<p>Kalau melihat namanya, jelas situs ini memang berusaha menjalin komunitas &#8216;Sundanese&#8217;, atau setidaknya para pemerhati kebudayaan Sunda. Tidak mengherankan jika situs ini menyediakan forum komunikasi sebagai tempat Anda bertemu dan membahas segala sesuatu mengenai komunitas ini di &#8220;Ngadu Bako&#8221;. Hoyong ngaraos janten urang Sunda? Cobian klik situs ieu (na) </p>
<p>Penulis: Demy Damayanto </p>
<p>*** dikutip dari:<br />
<br /><a class=1 href=http://www.detik.com/iguide/asoy/referensi/2001/01/05/200115-161534.shtml>http://www.detik.com/iguide/asoy/referensi/2001/01/05/200115-161534.shtml</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sundanet.com/?feed=rss2&amp;p=18</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>PERISTIWA JAWA BARAT TAHUN 2000</title>
		<link>http://www.sundanet.com/?p=17</link>
		<comments>http://www.sundanet.com/?p=17#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 1999 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bewara]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Peristiwa yang terjadi di Jawa Barat sepanjang tahun 2000.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b>5 Januari:</b><br />
<br />Terungkap hilangnya 77 ekor burung unta yang tertular penyakit antrax di Kawasan Penangkaran Desa Ciparungsari Kabupaten Purwakarta. Hewan-hewan yang dicuri itu merupakan bagian dari 3.000 ekor burung unta yang hendak dimusnahkan. </p>
<p><b>25 - 30 Januari:</b><br />
<br />Ribuan hektar tanaman padi puso akibat terendam banjir di pantai utara Jawa Barat. Genangan air membusukkan tanaman itu di Kabupaten Subang dan Indramayu. </p>
<p><b>3 Februari:</b><br />
<br />Kereta Api Argo Bromo Anggrek menabrak sebuah angkot di perlintasan Tanjungpura Kabupaten Karawang. Musibah yang merenggut korban 13 jiwa ini terjadi karena sopir angkot menerobos pintu perlintasan yang sudah tertutup. </p>
<p><b>5 April:</b><br />
<br />DPRD Jawa Barat menggelar rapat paripurna dan menyatakan tidak keberatan atas pembentukan Propinsi Banten. </p>
<p><b>10 April:</b><br />
<br />Keluarga dua terhukum mati dalam kasus pembunuhan di Arab Saudi meminta maaf kepada seluruh keluarga korban di Banyuwangi. Pemberian maaf dapat melepas Pipin dan Dedi, kedua terhukum asal Kiaracondong. </p>
<p><b>10 April:</b><br />
<br />Massa membakar Hotel Pusaka Mulya Cianjur. Peristiwa itu menandai kian kerasnya aksi massa atas hal-hal yang beraroma maksiat di Kabupaten Cianjur. </p>
<p><b>12 April:</b><br />
<br />Tawuran antar kampung memuncak di Indramayu. Puluhan orang terluka kena panah, termasuk 6 (enam) orang polisi dan Kapolres Indramayu Bambang Wasgito. Tiga orang kritis akibat tawuran yang melibatkan warga Desa Tambi dan Sleman Kecamatan Sliyeg. </p>
<p><b>15 April:</b><br />
<br />Tim peneliti dari 5 (lima) perguruan tinggi STPDN, ITB, Unpad, UPI dan Unjani menyatakan bahwa Kotif Cimahi layak untuk ditingkatkan statusnya menjadi Kota Otonom. </p>
<p><b>18 April:</b><br />
<br />Sekitar 20 ribu guru, mewakili 300 ribu guru dari seluruh Jawa Barat, berangkat menuju Jakarta untuk menuntut perbaikan kesejahteraan dan system pendidikan. </p>
<p><b>15 Mei 2000:</b><br />
<br />DPRD Kabupaten Indramayu menolak laporan pertanggungjawaban Bupati Ope Mustofa. &#8220;Ini resiko politik,&#8221; komentar Ope. </p>
<p><b>15 Mei:</b><br />
<br />Satgas PDI-P Jawa Barat menganiaya wartawan Pikiran Rakyat di Kabupaten Purwakarta. Wartawan kemudian memboikot pemberitaan PDIP Jawa Barat dan menuntut DPD PDIP meminta maaf. </p>
<p><b>19 Mei:</b><br />
<br />10 anggota DPRD Kabupaten Sukabumi menjadi tersangka kasus politik uang dalam pemilihan bupati. </p>
<p><b>30 Mei:</b><br />
<br />Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyerahkan hasil pemeriksaan atas pelaksanaan APBD Jabar. Badan ini menyebutkan terjadinya penyimpangan antara lain dalam hal pajak penerangan umum. </p>
<p><b>5 Juni:</b><br />
<br />Laporan Pertanggungjawaban Bupati Tasikmalaya Suljana WH mendapat pujian sejumlah fraksi. Namun fraksi Golkar menolaknya, dengan dalih harus loyal terhadap keputusan partai. </p>
<p><b>22 Juni:</b><br />
<br />DPRD Jabar menyetujui peningkatan status Tasikmalaya dari Kota Administratif menjadi kota dan mengajukannya ke Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD). </p>
<p><b>12 Juli:</b><br />
<br />Gempa bumi tektonik mengguncang Sukabumi. Sebanyak 2.126 rumah rusak berat, 8.096 rusak ringan. Selain itu 75 mesjid rusak berat dan 192 rusak ringan, 30 sekolah rusak berat dan 77 rusak ringan. Kerugian materi sekitar Rp 15,17 Miliar. </p>
<p><b>19 Juli:</b><br />
<br />Ketua DPRD Jawa Barat Ir. Idin Rafioeddin Soemawidjaja wafat dan dikebumikan di Taman Pemakaman Umum Sirnaraga Bandung. Kursi Idin akhirnya diwariskan kepada anggota DPRD Jabar dari fraksi yang sama, FPDIP, yakni Eka Santosa. </p>
<p><b>3 Agustus:</b><br />
<br />Pansus KKN DPRD Jawa Barat mengakhiri masa kerjanya dengan kesimpulan bahwa terjadi 6 (enam) kasus KKN dalam tubuh Pemda Jawa Barat yang merugikan negara Rp 209 miliar. Namun pansus tak mengeluarkan rekomendasi apapun kepada Dewan sehubungan kesimpulan itu. </p>
<p><b>7 Agustus:</b><br />
<br />Gubernur Jawa Barat R. Nuriana melontarkan kalimat yang menggegerkan , &#8220;Digebug sisa ku aing&#8221;, ucapan Nuriana berkaitan dengan pengungkapan hasil kerja Pansus KKN DPRD Jawa Barat yang membuatnya terpojok dalam kasus KKN di tubuh Pemda. </p>
<p><b>7 Agustus:</b><br />
<br />Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Walikota Bandung AA Tarmana diterima. Namun rumor tak sedap berkembang bahwa terjadi politik uang dalam penerimaan LPJ itu. </p>
<p><b>7 Agustus:</b><br />
<br />Laporan pertanggungjawaban Walikota Cirebon Drs.H. Lesmana Suriatmadja ditolak. &#8220;Inilah demokrasi,&#8221; komentar Lesmana. </p>
<p><b>11 Agustus:</b><br />
<br />DPRD Kabupaten Tasikmalaya menerima laporan pertanggungjawaban Bupati Suljana WH. Kendati demikian, Dewan juga mencatat berbagai kekurangan. </p>
<p><b>21 Agustus:</b><br />
<br />Dua kekuatan politik besar di DPRD Kabupaten Bandung, FDPIP dan Gabungan Fraksi, akhirnya menerima laporan pertanggungjawaban (LPJ) Bupati Hatta Djatipermana. Sebelumnya 26 Juli, keduanya menolak LPJ Hatta. </p>
<p><b>22 Agustus:</b><br />
<br />Baru sembuh dari sakit. Bupati Ciamis H. Oma Sasmita, SH,Msi. Mendapat &#8220;kado&#8221; dari DPRD Kabupaten Ciamis. Berdasarkan hasil voting lembaga itu menerima laporan pertanggungjawaban Oma. </p>
<p><b>30 Agustus:</b><br />
<br />Lewat proses yang kontroversial, DPRD Jawa Barat menerima laporan pertanggungjawaban (LPJ) Gubernur R. Nuriana. Dewan menerima LPJ tanpa voting, padahal sejumlah anggota Dewan masih menyatakan menolak. </p>
<p><b>6 September:</b><br />
<br />Ratusan petani Cimacan, Kab. Cianjur, menduduki lapangan golf milik PT. Bandung Asri Mulya. Lebih dari itu, para petani juga mencangkuli lapangan golf seluas 33 hektar itu. </p>
<p><b>7 September:</b><br />
<br />DPRD Jawa Barat akhirnya menyerahkan kasus KKN Pemda ke Kejaksaan Tinggi. Keputusan itu dinilai sebagai langkah &#8216;cuci tangan&#8217;. Belasan anggota Dewan yang berharap DPRD meminta pertanggungjawaban Gubernur R. Nuriana akhirnya merasa kecewa. Mereka walk out dari ruang rapat. </p>
<p><b>4 Oktober:</b><br />
<br />DPR RI secara bulat menyetujui RUU Pembentukan Provinsi Banten. Ini mendapat sambutan luar biasa dari ribuan masyarakat Banten yang sengaja datang ke Senayan. Mereka juga membentangkan spanduk, poster dan meneriakkan yel-yel &#8216;Hidup Banten&#8217;. </p>
<p><b>15 November:</b><br />
<br />Empat orang tewas akibat longsor di kampung Tonjong, Desa mangunjaya, Kec. Anjarsari, Kab. Bandung. Longsor berupa lumpur datang dari aliran sungai Cikadu di kaki gunung Malabar. </p>
<p><b>18 November:</b><br />
<br />Mendagri dan Otda Soerjadi Sudirja melantik Hakamuddin Jamal sebagai Pejabat Gubernur Banten. </p>
<p><b>20 November:</b><br />
<br />Longsor melanda Kec. Ibun, Kab. Bandung. Peristiwa ini menewaskan tiga orang dan melukai 15 orang lainnya. Kerugian materi mencapai Rp. 500 juta. </p>
<p><b>25 November:</b><br />
<br />Ahmad Dadang (Fraksi Amanat Persatuan Bangsa) dan Salahudin Mufti (FPG) memenangkan pemilihan bupati/wakil bupati di Karawang. Kemenangan mereka memicu kemarahan kader FPDI-P. Buntutnya, gedung Sekwilda dan DPRD Kab. Karawang dirusak. Ketua DPRD Sujud Purwanto dari FPDI-P akhirnya mundur dari jabatannya dan menghilang. </p>
<p><b>30 November:</b><br />
<br />Yance Irsyam terpilih menjadi bupati Indramayu. Terpilihnya kader Golkar ini membuat marah ribuan kader PDI-P. Mereka melempari petugas keamanan dengan botol dan potongan kayu. </p>
<p><b>6 Desember:</b><br />
<br />Obar Subama dan Eliyadi Agrarahardja dilantik sebagai bupati dan wakil bupati Kab. Bandung. Keduanya terpilih berkat kesolidan &#8216;koalisi&#8217; Partai Golkar dan PDI-P menghadapi kekuatan Gabungan fraksi yang didominasi kekuatan Poros Tengah. </p>
<p><b>12 Desember:</b><br />
<br />DPRD Jawa Barat mengesahkan restrukturisasi organisasi Pemda. Struktur baru hanya akan menampung 4.000 pegawai dari 17 ribu orang yang ada saat ini, Struktur baru Pemda mencakup 19 dinas, 14 badan, dua kantor, empat asisten, dan 13 biro. </p>
<p>* Sumber: REPUBLIKA, 30 Desember 2000</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sundanet.com/?feed=rss2&amp;p=17</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
